Showing posts with label Perkongsian. Show all posts
Showing posts with label Perkongsian. Show all posts

Wednesday, May 18, 2011

Cinta dari pandangan Imam Al-Syafie

IMAM Al-Syafie banyak memberi pedoman dalam memilih kawan.
Beliau juga mengakui sukar mencari sahabat sejati
yang mahu berkongsi suka duka bersama.

Ketika menilai sahabat sejati pada waktu susah,

katanya: “Kawan yang tidak dapat dimanfaatkan ketika susah
lebih mendekati musuh daripada sebagai kawan.

“Tidak ada yang abadi dan tidak ada kawan yang sejati

kecuali yang menolong ketika susah.”

“Sepanjang hidup aku berjuang bersungguh-sungguh

mencari sahabat sejati hingga pencarianku melenakanku.

“Kukunjungi seribu negara, namun tidak satu negara pun

yang penduduknya berhati manusia.”

Imam Al-Syafie turut meminta kita berhati-hati memilih sahabat 
kerana

sahabat yang baik akan membawa ke arah kebaikan dan begitu sebaliknya.

Katanya: “Jika seseorang tidak dapat menjaga nama baiknya

kecuali dalam keadaan terpaksa,
tinggalkanlah dia dan jangan bersikap belas kasihan kepadanya.

“Banyak orang lain yang dapat menjadi penggantinya.

Berpisah dengannya bererti istirehat.

“Dalam hati masih ada kesabaran buat kekasih,

meskipun memerlukan daya usaha yang keras.

“Tidak semua orang yang engkau cintai, mencintaimu

dan sikap ramahmu kadangkala dibalas dengan sikap tidak sopan.

“Jika cinta suci tidak datang daripada tabiatnya,

tidak ada gunanya cinta yang dibuat-buat.

“Tidak baik bersahabat dengan pengkhianat kerana

dia akan mencampakkan cinta setelah dicintai.

“Dia akan memungkiri jalinan cinta yang terbentuk dan

akan menampakkan hal yang dulunya menjadi rahsia.”

Seseorang itu juga dapat menundukkan musuhnya

dengan menunjukkan rasa persahabatan.

Imam Al-Syafie dalam hal ini berkata: “Ketika aku menjadi pemaaf

dan tidak mempunyai rasa dengki, hatiku lega,
jiwaku bebas daripada bara permusuhan.

“Ketika musuhku berada di hadapanku, aku sentiasa menghormatinya.

Semua itu kulakukan agar aku dapat menjaga diriku daripada kejahatan.

“Aku nampakkan keramahan, kesopanan dan rasa persahabatanku

kepada orang yang kubenci, seperti aku nampakkan hal itu kepada
orang yang kucintai.”


Monday, May 02, 2011

MELAMAR WANITA YANG BAIK

Assalamualaikum.. Sollu 'Alannabiy. slmt hr isnin yg ceria..senyum2..^_^
Hr ni nk kongsi ilmu yg sy dpt dr kwn sy  iaitu cmne nk 'Melamar Wanita Yang Baik'. Hr ni klu sy prhatikan ada kwn2 sy di Negara Pasir Berdengung sana nunnn baik laki atau pmpuan dh tak ambil berat soal siapa jdoh mreka. mksud sy, mreka xkisah klu laki atau pmpuan tu ok ke x..kapel ngn anak Pak Teh dia ka.. mcm2 ada wlpn dhalang sbb depa dh rncg nk kwen. hm.. pape jelah. Tp ni dtju khas buat laki2..
Selamat membaca dan Selamat Melamar Wanita Yang Baik. InsyaAllah. Maaf..:)

Dalam melamar, seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan beberapa sifat yang ada pada wanita yang akan dilamar, diantaranya :
1. Wanita itu disunahkan seorang yang penuh cinta kasih. Maksudnya ia harus selalu menjaga kecintaan terhadap suaminya, sementara sang suami pun memiliki kecenderungan dan rasa cinta kepadanya. Selain itu, ia juga harus berusaha menjaga keridhaan suaminya, mengerjakan apa yang disukai suaminya, menjadikan suaminya merasa tentram hidup dengannya, senang berbincang dan berbagi kasih sayang dengannya. Dan hal itu jelas sejalan dengan firman Allah Ta’ala, Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang. (ar-Ruum:21) .
2. Disunahkan pula agar wanita yang dilamar itu seorang yang banyak memberikan keturunan, kerana ketenangan, kebahagiaan dan keharmonian keluarga akan terwujud dengan lahirnya anak-anak yang menjadi harapan setiap pasangan suami-istri. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman, Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa’. (al-Furqan:74) . Dalam sebuah hadith, Rasulullah Sollallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, Menikahlah dengan wanita-wanita yang penuh cinta dan yang banyak melahirkan keturunan. Kerana sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari Qiamat kelak. Demikian hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Nasa’I, al-Hakim, dan ia mengatakan, Hadith tersebut sanadnya sohih.
3. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu seorang yang masih gadis dan masih muda. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahihain dan juga kitab-kitab lainnya dari hadits Jabir, bahwa Nabi Sollallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepadanya, Apakah kamu menikahi seorang gadis atau janda? dia menjawab,”Seorang janda.”Lalu beliau bersabda, Mengapa kamu tidak menikahi seorang gadis yang kamu dapat bercumbu dengannya dan ia pun dapat mencumbuimu? . Kerana seorang gadis akan mengantarkan pada tujuan pernikahan. Selain itu seorang gadis juga akan lebih menyenangkan dan membahagiakan, lebih menarik untuk dinikmati akan berperilaku lebih menyenangkan, lebih indah dan lebih menarik untuk dipandang, lebih lembut untuk disentuh dan lebih mudah bagi suaminya untuk membentuk dan membimbing akhlaknya. Rasulullah Sollallahu 'Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda, Hendaklah kalian menikahi wanita-wanita muda, kerana mereka mempunyai mulut yang lebih segar, mempunyai rahim yang lebih subur dan mempunyai cumbuan yang lebih menghangatkan. Demikian hadith yang diriwayatkan asy-Syirazi, dari Basyrah bin Ashim dari ayah nya, dari datuknya. Dalam kitab Shahih al_Jami’ ash_Shaghir, al-Albani mengatakan, “Hadith ini sohih.”
4. Dianjurkan untuk tidak menikahi wanita yang masih termasuk keluarga dekat, kerana Imam Syafi’I pernah mengatakan, “Jika seseorang menikahi wanita dari kalangan keluarganya sendiri, maka kemungkinan besar anaknnya mempunyai daya fikir yang lemah.”
5. Disunahkan bagi seorang muslim untuk menikahi wanita yang mempunyai salasilah keturunan yang jelas dan terhormat, kerana hal itu akan berpengaruh pada dirinya dan juga anak keturunannnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah Sollallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, Wanita itu dinikahi kerana empat hal: kerana hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscahya kamu beruntung. (HR. Bukhari, Muslim dan juga yang lainnya).
6. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia. Kerana ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya pembantu bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya. Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, redha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta’ala, “Sebab itu, maka wanita-wanita yang sohih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak berada di tempat, oleh kerana Allah telah memelihara mereka”. (an-Nisa:34) . Sedangkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Sollallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita solehah”. (HR. Muslim, Nasa’I dan Ibnu Majah).
7. Selain itu, hendaklah wanita yang akan dinikahi adalah seorang yang cantik, kerana kecantikan akan menjadi dambaan setiap insan dan selalu diinginkan oleh setiap orang yang akan menikah, dan kecantikan itu pula yang akan membantu menjaga kesucian dan kehormatan. Dan hal itu telah disebutkan Rasulullah Sollallahu 'Alaihi wa Sallam dalam hadith tentang hal-hal yang disukai dari kaum wanita. Kecantikan itu bersifat relatif. Setiap orang mempunyai gambaran tersendiri tentang kecantikan ini sesuai dengan selera dan keinginannya. Sebagian orang ada yang melihat bahwa kecantikan itu terletak pada wanita yang pendek, sementara sebagian yang lain memandang ada pada wanita yang tinggi. Sedangkan sebagian lainnya memandang kecantikan terletak pada warna kulit, baik coklat, putih, kuning dan sebagainya. Sebagian lain memandang bahwa kecantikan itu terletak pada keindahan suara dan kelembutan ucapannya. Demikianlah, yang jelas disunahkan bagi setiap orang untuk menikahi wanita yang ia anggap cantik sehingga ia tidak tertarik dan tergoda pada wanita lain, sehingga tercapailah tujuan pernikahan, iaitu kesucian dan kehormatan bagi tiap-tiap pasangan.

Sumber: Fiqh Keluarga, Syeikh Hasan Ayyub, Cetakan Pertama, Mei 2001, Pustaka Al-kautsar


Tuesday, April 19, 2011

Jauhi 15 Bahaya Lidah Yang Boleh Mencampakkan Seseorang ke Neraka Jahanam

Jauhi 15 Bahaya Lidah Yang Boleh Mencampakkan Seseorang ke Neraka Jahanam

by Abu Basyer on Monday, April 18, 2011 at 12:03pm

Bismillahirrahmanirrahim.
Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad  S.A.W. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Setiap manusia dikurniakan oleh Allah SWT lidah. Lidah adalah daging yang lembut terletak di dalam mulut manusia. Walaupun lidah tidak bertulang tetapi lidah boleh mendatangkan dua akibat (kesan) yang besar iaitu samaada ke syurga atau ke neraka. Jika digunakan dengan baik dan jujur maka lidah akan membawa pelakunya insya Allah ke syurga atau sebaliknya lidah yang disalah gunakan akan membawa pelakunya ke neraka. Nabi SAW pernah memberi isyarak kepada sahabat bahawa dua anggota manusia yang banyak membawa ke neraka iaitu lidah dan kemaluan.

Nabi SAW pernah bersabda yang bermaksud : "...sesiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia mengucapkan perkataan yang baik atau diam". (Hadis Riwayat Muttafaq 'alaih)

Di dalam hadis sahih riwayat Bukhari Nabi SAW bersabda kepada Mu'az bin Jabal sambil memegang lidahnya yang bermaksud : "Engkau wajib menahan ini. Maka aku berkata, ya Rasulullah, kami sentiasa mengotakan apa yang kami kata. Nabi berkata, 'ibumu telah kehilangan engkau, wahai Mu'az. Bukanlah manusia di bantingkan muka mereka ke dalam neraka disebabkan angkara lidah mereka?". (Hadis Riwayat Bukhari)l

Rasulullah s.a.w. berpesan kepada Sayyidina Ali k.wj. yang bermaksud :

"Wahai Ali ! Allah tidak menjadikan apapun dalam tubuh manusia yang paling utama, kecuali mulut (lisan). Sesungguhnya mulutnyalah yang mengiring dirinya masuk syurga atau masuk neraka. Maka dari itu penjarakanlah (jagalah) mulut kerana mulut itu bagaikan anjing (gila)".

Terdapat 15 bahaya yang timbul akibat ucapan (lidah) yang membawa pelakunya ke neraka, perkara tersebut adalah seperti berikut :

Pertama : Mengucapkan sesuatu yang tidak perlu

Kita hendaklah menahan lidah daripada mengucapkan perkataan yang tidak berfaedah dan boleh mendatangkan dosa. Lidah perlu dibasahkan dengan zikir kepada Allah SWT

Nabi SAW bersabda maksudnya : "Sebahagian daripada bukti keelokan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara-perkara yang tidak berfaedah". (Hadis Riwayat Muttafaq 'alaih)

Kedua : Terdorong mengucapkan perkara yang batil (dosa)

Bermegah-megah dan menceritakan pada orang lain perbuatan maksiat yang dia lakukan.

Nabi SAW bersabda maksudnya : "Sesungguhnya , terdapat orang yang disebabkan ucapannyalah ia tergelincir ke dalam neraka yang luasnya antara masyrik dengan maghrib" Dan , dalam hadis lain yang senada dengan ini, "Hanya kerana satu perkataan yang membuat Allah benci, maka orang itu dimasukkan ke dalam neraka". (Hadis Riwayat Muslim)

Termasuk juga suka berbantah-bantahan dengan orang alim dan tidak mahu menerima teguran dan mempertahankan pendapatnya yang jahil.

Nabi SAW bersabda maksudnya : "Lelaki yang paling dibenci Allah ialah lelaki yang suka perbantahan dan permusuhan".

Ketiga : Bercakap membuta tuli (tidak ikut hukum Islam dan bercakap tidak berdasarkan ilmu disebabkan kejahilannya)

Nabi SAW telah menyatakan bahawa orang yang paling dibenci dan jauh tempatnya dari baginda pada hari kiamat nanti, ialah orang yang banyak bercakap tapi tidak tentu arah kerana ia tidak berfikir sebelum bercakap.

Keempat : Memaki hamun dan cakap kotor

Nabi SAW bersabda maksudnya : " Bukanlah beriman orang yang suka mencela, mengutuk, mengeji dan bercakap kotor".

Nabi SAW berpesan kepada Sayidina Ali k.wj. maksudnya :

"Wahai Ali ! Janganlah engkau mencaci-maki orang Islam atau mencaci-maki binatang kerana cacian itu akan kembali dirimu sendiri.

Wahai Ali ! Kuasailah lisanmu dan biasakanlah dia mengucapkan yang baik, kerana tidak ada yang lebih berbahaya bagi manusia pada hari kiamat yang melebihi ketajaman lisannya.

Wahai Ali ! Jauhilah tukang caci-maki kerana ia suka membuka aib orang dan ia tidak akan masuk syurga."

Kelima : Nyanyian

Nabi SAW telah memperingatkannya melalui sebuah hadis yang bermaksud : "Nyanyian akan menumbuhkan kemunafikan (nifiq) di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayur-sayuran". (Hadis Riwayat Baihaqi dan Ibnu Abu Dunya)

Dalam hadis yang lain Nabi SAW bersabda maksudnya : "Selagi akan ada di kalangan umatku orang-orang yang memakai (menghalalkan) kain sutera dan nyanyian"
(Hadis Riwayat Bukhari)

Firman Allah SWT dalam surah Luqman ayat 6 yang bermaksud : "Dan sebahagian manusia ada yang membeli percakapan kosong (lahwal hadis) untuk menyesatkan (orang lain) daripada Allah."

Apabila ditanya Ibnu Mas'ud makna 'lahwal hadis' dalam ayat tersebut, beliau mengatakan 'nyanyian' bukan yang lain.

Nyanyian yang dimaksudkan di sini adalah nyanyian yang melekakan daripada mengingati Allah SWT. Senikata lagunya membenarkan perbuatan maksiat. Penyanyinya pula seorang wanita yang mendedahkan aurat, berhias (tabaruj), menggunakan suara yang merdu dan mempersonakan.

Tetapi sekiranya nyanyian tersebut berunsur dakwah, tidak melalaikan kewajipan, tidak menghalalkan yang haram dan nyanyian itu dilakukan oleh lelaki atau mahram kaum lelaki dan tidak nyaring serta tidak diiringi dengan sesuatu yang haram.

Keenam : Bergurau

Bergurau tidak berdosa selagi gurauan itu tidak melampau batas, kerana Nabi SAW sendiri pernah bergurau tapi tidak pernah terkeluar daripada memperkatakan yang benar. Itu pun jarang dilakukan Nabi. Pada umumnya , banyak bergurau akan mengurangkan ketenangan dan boleh menumbuhkan kedengkian, tapi gurauan yang sedikit atau sekadar menghilangkan kebosanan, tidak mengapa.

Ketujuh : Mengejek atau memperolok-olokkan

Firman Allah SWT maksudnya : "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok -olokkan), dan janganlah pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (kerana) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olakkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan), dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan (ialah) panggilan buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (Surah al-Hujurat ayat 11)

Diriwayatkan bahawa ayat diatas diturunkan kerana utusan Tamim telah menghina golonqan fakir miskin dari kalangan sahabat Nabi SAW. seperti Bilal, 'Ammar, Shuhaib, Khabbab, Ibnu Fuhairah, Salman Al Farisy, Salim maula Abi Huzaifah dan lain lain.

Kelapan : Menyebarkan fitnah, sumpah palsu, berdusta dan berbohong.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Sumpah palsu termasuk perbuatan yang mendapatkan azab besar. Selanjutnya, dalam suatu hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a. disebutkan, sumpah palsu termasuk di antara perbuatan yang berdosa besar (Hadis Riwayat Tirmidzi).  

Bahkan, masih menurut riwayat Abu Hurairah, termasuk dalam lima dosa besar yang tidak diampuni dengan kafarat ialah sumpah palsu dengan maksud mengambil harta orang lain.  

Rasulullah S.A.W.  bersabda kepada Sayyidina Ali k.w. yang bermaksud :
"Wahai Ali ! Berbuatlah jujur sekalipun hal itu akan membahayakan dirimu didunia. Sesungguhnya kejujuran itu bermanfaat di kemudian hari. Dan janganlah berdusta sekalipun bermanfaat bagimu ketika itu kerana kedustaan itu akan menyulitkan kamu di kemudian hari."

Nabi S.A.W. bersabda maksudnya : “Empat perkara, siapa yang terdapat padanya empat perkara ini, maka ia adalah munafik tulin, dan siapa yang terdapat padanya salah satu darinya, maka padanya ada satu ciri kemunafikan; apabila diberi amanah ia berkhianat, apabila bercerita ia berdusta, apabila membuat janji ia mungkiri dan apabila berdebat ia curang.”  (Hadis Riwayat Bukhari no. 34, 2459, 3178 dan Muslim no. 2635. dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a.)

Kesembilan : Tidak mengambil undang-undang Allah SWT dalam memutuskan sesuatu perkara.

Golongan yang mengunakan lidah-lidah mereka untuk menggubal, bersetuju dan membahaskan dan meluluskan rang undang-undang ciptaan manusia walaupun bertentangan dengan  al-Quran dan sunnah dan berhukum dengan hukuman yang di cipta oleh manusia sebenarnya golongan ini meletakkan Allah dan Rasul-Nya  dibelakangnya. Al-Quran melebalkan golongan ini samaada kafir, zalim atau fasik.

Firman Allah SWT yang bermaksud :

"Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir" (Surah al-Maidah ayat 44)

"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim" (Surah al-Maidah ayat 45)

"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang fasik." (Surah al-Maidah ayat 47)

Kesepuluh : Mengumpat.

Ketika Haji Widak, Nabi SAW bersabda maksudnya : "Sesungguhnya darah kamu , dan kehormatan kamu adalah haram atas kamu (mencabulinya) (Hadis Riwayat Jamaah)

Rasulullah SAW  bersabda yang bermaksud, " Tahukah kamu apakah ghaibah? Jawab sahabat, "Allah dan Rasul yang lebih mengetahui. " Maka Rasulullah SAW. bersabda , "Ghaibah itu jika kamu menyebut (membicarakan) hal keadaan saudaramu yang tidak suka hal itu disebut atau dibicarakan kepada orang lain, maka itu bererti ghaibah." Lalu Rasulullah SAW  di tanya," Bagaimana kalau saudaraku itu memang begitu? "Jawab Rasulullah SAW " Jika kamu sebut itu benar ada padanya maka itu ghaibah. Tetapi jika ia tidak benar, itu buhtan (membuat kepalsuan untuk memburukkan nama orang lain).

Kesebelas : Mengadu domba (menghasut)

Nabi SAW bersabda maksudnya : " Tidak masuk syurga orang yang mengadu domba."

Nabi S.A.W berwasiat kepada Sayidina Ali k.wj: "Wahai Ali ! Saya melihat tulisan pada pintu syurga yang berbunyi "Syurga itu diharamkan bagi setiap orang yang bakhil (kedekut), orang yang derhaka kepada kedua orang tuanya, dan bagi orang yang suka mengadu domba (mengasut)."

Kedua belas : Lidah bercabang dua

Maksud lidah bercabang dua adalah seorang yang berulang alik di antar dua orang yang bermusuhan, untuk menyampaikan ucapan salah seorang daripada mereka kepada yang seorang lagi. Tujuannya adalah supaya dia disanjung oleh kedua-dua pihak dan untuk dia mendapat habuan dunia, dan supaya kedua-dua pihak sentiasa bermusuhan.

Nabi SAW bersabda maksudnya : "Manusia paling jahat ialah sidua muka, apabila ia mendatangi kelompok  manusia maka ia membawa muka yang satu, dan apabila ia datangi kelompok manusia yang lain maka ia membawa muka yang satu lagi."

Ketiga belas : Memuji

Ini juga termasuk bahaya yang timbul daripada lidah. Sebab , memuji seseorang yang tidak sepatutnya menerima pujian itu atau pujian yang berlebihan yang tidak sesuai dengan hal yang sebenarnya sehingga jatuh kepada dusta atau memuji orang yang sepatutnya dicela.

Suatu pujian sering membuat orang yang menerimanya besar diri dan ujub, sedangkan Nabi SAW melarang demikian.

Nabi SAW berwasiat kepada Sayidina Ali k.wj : "Wahai Ali ! Apabila engkau disanjung orang dihadapanmu, ucapkanlah : 'Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka katakan, ampunilah dosaku apa yang mereka tidak ketahui, janganlah aku disiksa tentang apa-apa yang mereka ucapkan' . "

Keempat belas : Bersumpah setia kepada selain Allah

Allah SWT telah menerangkan di dalam al-Quran bahawa kita tidak boleh bersumpah setia kepada sesuatu sebagai tandingan bagi keagungan atau kebesaran Allah. Sumpah setia seperti itu boleh menjerumuskan orang berkenaan ke dalam neraka.

Kelima belas : Jangan berkata "kalau" pada kejadian yang telah berlaku.

Nabi SAW bersabda yang bermaksud ; "Jika kamu ditimpa oleh sesuatu maka janganlah berkata: “Kalau aku berbuat demikian, tentu akan menjadi sekian-sekian” akan tetapi katakanlah: “Takdir Allah dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi”. Ini kerana perkataan “kalau” membuka pintu perbuatan syaitan." (Hadis Sahih Riwayat Muslim , no: 4816)

Sahabat yang dikasihi,
Marilah sama-sama kita menjaga lidah kita supaya sentiasa bercakap benar dan janganlah kita menyempang daripada jalan Allah SWT. Allah SWT  sentiasa bersifat benar, begitu juga para rasul bersifat sidek. Mereka memperjuangkan agama yang benar (Islam) dan mengajak manusia kepada kebenaran.Mereka berjuang melupuskan segala pendustaan, kepalsuan dan kepura-puraan dalam hidup.Mereka memperjuangkan keadilan dan nilai kemanisan hidup berteraskan kebenaran.

Apabila kebenaran di abaikan maka muncullah manusia yang sentiasa menjadikan lidahnya sentiasa buat pendustaan amalan kehidupan seharian. Secara tidak langsung membawa kepada kemusnahan keamanan ummat manusia.Kebenaran tergambar pada sifat ikhlas, jujur dan didikasi.Benar pada niat dan kemahuan fikiran dan tindakkan dan benar pada kata-kata pernyataanya.

Sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud : "Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikkan dan kebajikan itu membawa kepada Syurga. Seorang yang sentiasa berlaku benar, nescaya akan tercatat di sisinya Allah s.w.t sebagai sidek (org yg benar) dan sesungguhnya bohong membawa keburukkan dan keburukkan itu membawa ke neraka. Seseorang yang suka berbohong, nescaya tercatat disisi Allah SWT sebagai kazab(pembohong)''

 Semoga kita semua patuh dan tunduk kepada semua yang disuruh-Nya dan sentiasa diredai-Nya  di dunia dan akhirat dan dimasukan Allah SWT kedalan syurga-Nya.

Tiada Tuhan selain Allah..

apa kata baca ini:

kure-kure comey..

ketenangan